This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

sejarah jaket pilot

Jaket kulit yang digunakan pilot atau Flight Bomber Jacket sekarang tersedia dalam berbagai macam gaya dan warna. Awalnya konsep pembuatan Leather Flight Jacket ini dimulai pada saat WWI (Perang Dunia Pertama), dengan tujuan menstabilkan (menghangatkan) suhu tubuh pilot & crew pada ketinggian ribuan kaki di udara dimana keadaan angin dan suhunya sangat ekstrim.

Sayangnya pada saat itu jaket yang dibuat jauh dari harapan kegunaan dan kepraktisan, barulah pada awal tahun 1915 para pilot dari Royal Flying Corps yaitu jasa penerbangan di wilayah Perancis dan Belgia mulai memakai jaket kulit berlengan panjang dan dimulailah era trend baru Leather Flight Jackets.



Pada tahun 1917 the United States Army mulai mendistribusikan Leather Bomber Flight Jackets yang pada saat itu berbarengan dengan pesatnya perkembangan industry pesawat terbang di Amerika. Tahun 1931 the US Air Corp mengeluarkan produk baru yaitu Type A2 Bomber Jacket serta Type M-445 Flight Jacket di tahun berikutnya, jaket ini dikenal dengan sebutan G1.

Ketika memasuki WWII (Perang Dunia Kedua), di saat pesawat terbang sudah mulai tinggi jarak tempuhnya sekitar 25.000 kaki dan temperatur bisa di bawah nol derajat celcius dimulailah era Shearling Flight Jacket yaitu bomber flight jacket dengan lapisan wool di dalamnya yang menjadi salah satu jaket terhangat pada jamannya. Sherling jackets memiliki beberapa type di antaranya ANJ-4 Shearling yang biasa dipakai B-17 dan B-24 Pilots.



Pada tahun 1950-an angkatan udara Amerika mengeluarkan aturan baru demi kenyamanan dan keselamatan penerbang, dari sinilah dimulainya era flight jacket dari bahan nylon.
Tapi bukan berarti keberadaan Leather Filght Jacket ini menghilang, jaket ini masih terus diproduksi bukan hanya karena untuk bergaya tetapi juga untuk mengenang para jasa bomber pilot yang berjaya pada masanya.

http://eksplorasi-dunia.blogspot.com/2009/10/sejarah-jaket-pilot.html

Yang Lucu, Unik dan Menarik dalam Dunia Penerbangan!

anda tidak perlu marah-marah saat mengetahui nomor kursi Anda ternyata sudah diduduki oleh penumpang lain. Siapa tahu nasib Anda akan terangkat dengan dipersilakannya Anda pindah tempat duduk ke kelas bisnis.

Bagi saya yang bukan jenis pebisnis, ikut penerbangan kelas ekonomi adalah bagaikan by default. Pertama kali saya terbang dengan kelas bisnis adalah karena sebab di atas. Itu saya alami saat terbang dengan pesawat Garuda dengan rute Balikpapan - Jakarta. Ketika ditemukan nomor kursi saya sudah diduduki oleh penumpang lain, tak perlu waktu lama dengan ramah sang pramugari mempersilakan saya pindah ke kelas bisnis, tentu saja dilayani dengan menu dan kualitas kelas bisnis. Enak juga, tiket harga ekonomi tapi menikmati kelas bisnis.

Hal yang sama saya pikir akan saya alami lagi saat menumpang kelas ekonomi di pesawat Air France rute Singapura - Paris. Saya berpikiran seperti itu karena seorang pramugari datang menghampiri tempat duduk saya sambil di belakangnya diikuti oleh seorang penumpang yang berwajah masam. Eh…ternyata saya hanya ge-er, bukan saya yang nomor kursinya bermasalah tapi teman saya yang kursinya di barisan depan saya. Hanya sayangnya, teman saya tidak cukup pede seperti saya, akhirnya si bule berwajah masamlah yang mendapat rejeki itu. Memang nasib orang Indonesia, selalu mengalah padahal sudah dirugikan, saat diberi kompensasi malahan menolak dengan alasan kesopanan yang tidak perlu he…he…

Saya sangat merasa tersanjung saat perusahaan memberikan saya kelas bisnis sejak penerbangan dari Balikpapan saat dikirim untuk melakukan sebuah tugas di Dallas - Texas. Itu pun saya masih menganggap kelas bisnis nggak ada istimewanya, wajar kalau mendapatkan service yang lebih bagus wong tiketnya juga sangat mahal. Saya baru sadar betapa istimewanya kelas bisnis saat saya sudah sampai di Texas. Kolega-kolega di Texas menganggap jabatan saya sudah sedemikian tinggi saat mengetahui kalau saya naik kelas bisnis, padahal saya ini hanya insinyur rendahan. Karena itulah mereka sangat menghormati saya (bukan karena sayanya, tapi karena saya naik kelas bisnis he…he…). Bagi mereka (katanya) naik kelas bisnis itu ibarat mimpi. Hanya sekelas direktur dan presiden direktur yang diijinkan untuk menikmati dalam sebuah perjalanan bisnis. Saya membuktikannya saat saya pulang nanti.

Sebenarnya banyak orang menyuruh saya menumpang Singapore Airlines ketimbang American Airlines saat pergi ke Texas, alasannya pelayanannya jauh lebih baik. Tapi nggak tahu kenapa akhirnya saya tetap memilih American Airlines, alasan saya biar nggak repot harus pindah-pindah ke pesawat rute domestik saat di Amerika Serikat.

Melanjutkan pengalaman di kabin kelas bisnis American Airlines. Saya baru sadar bahwa budaya di Amerika memang agak kaku dan penuh perhitungan. Semua bentuk pelayanan dibuat menjadi ringkas, efisien dan tidak memerlukan banyak tenaga. Bahkan kabin kelas bisnis juga dibuat tidak terlalu berbeda jauh dengan kelas bisnis, karena jarak antar kursi tidak terlalu jauh bahkan cenderung lebih rapat dibandingkan maskapai lain semacang Singapore Airlines. Saya juga menyaksikan satu kejadian dimana ada penumpang kelas ekonomi yang mungkin ingin sekedar jalan-jalan untuk meluruskan kaki yang pegal, saat dia masuk ke kelas bisnis langsung diusir oleh awak kabin kelas bisnis. Diusir bukan ala Indonesia dimana sang penumpang dikasih tahu dengan baik-baik, tapi benar-benar diusir dalam arti yang sebenarnya. Mungkin memang niatnya baik untuk menjaga privasi para penumpang kelas bisnis, tapi caranya itu lho..he…he…

Sama dengan maskapai lain di rute panjang seperti ini, di America Airline Anda akan mendapatkan 1 tas kecil berisi sisir, sumbat telinga, tutup mata, odol dan sikat gigi. Tapi Anda harus hati-hati dengan ear-set. Ear set ini tidak boleh Anda bawa pulang, saat pesawat mendarat harus dikembalikan ke pramugari. Kalau hilang Anda akan kena denda yang lumayan mahal. Suatu kali saya melihat ada pramugari yang menakut-nakuti penumpang yang akan turun di Tokyo, karena ear-set nya tidak ditemukan, entah di mana. Saya melihat bagaimana penumpang Jepang itu kebingungan harus mencari ear set-nya di bawah pengawasan mata galak sang pramugari.

Bagi saya hal seperti itu agak aneh untuk sebuah maskapai sekelas American Airlines. Padahal kalau saya bandingkan dengan kelas ekonomi Air France saat rute Singapura - Paris, semua fasilitasnya gratis dan bisa dibawa pulang, termasuk ear-set.

Saat saya pulang saya juga menggunakan American Airlines rute Dallas - Tokyo. Semuanya masih tetap sama, tidak ada pramugari yang muda, semuanya tua-tua. Benar kata kolega saya di Texas bahwa hanya pejabat tinggi perusahaan saja yang biasanya menumpang kelas bisnis kalau sedang dalam perjalanan bisnis. Saya membuktikannya sendiri karena penumpang di sebelah saya adalah pimpinan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang peroketan. Saya mengintip saat dia membuka laptopnya….ternyata dia akan memberikan presentasi tentang proyek peluncuran roket di depat pejabat pemerintah Jepang.

Berbeda pengalaman saat menumpang kelas bisnis Japan Airlines rute Tokyo - Singapura. Anda kembali dilayani dengan keramahan khas Asia. Bahkan yang menjadi kejutan bagi saya, sang pramugari di kabin bisnis sudah mengenal nama saya. Sejak saya masuk, dia sudah menyapa saya dengan nama saya dan memperkenalkan dirinya sebagai pramugari yang akan khusus melayani saya sepanjang penerbangan jauh ini. Dan memang benar, saya benar-benar dilayani dengan profesional ala Asia selama penerbangan itu.

Dari pengalaman di atas, saya kadang berpikir Garuda Indonesia nggak usahlah bersaing dengan Singapore Airlines, cukup bersaing dengan American Airlines saja saya yakin Garuda Indonesia akan menang kalau pelayanannya bisa dipertahankan. Tapi nggak tahu kenapa Garuda kebanggaan kita ini kok begini-begini saja ya ?

(Osa Kurniawan Ilham, Balikpapan, 17 Oct 2009)

bener-bener hebat nih anak....!

Bocah 6 Tahun Mengudara!


Bocah berusia 6 tahun terbang bersama balon raksasa berbentuk piring di Denver, Colorado, AS. Balon tersebut lepas dan terbang membawa sang bocah hingga ketinggian 2.100 meter di atas langit Colorado.
Tayangan televisi setempat sempat merekam adegan kejadian balon yang terbang selama hampir 2 jam di Colorado. Helikopter dari para petugas terlihat mengejar balon yang dibuat oleh ayah bocah tersebut. Reuters/KUSA TV.

detik.com

KORUPSI AYAT ROKOK

KAKAR: Ada Indikasi Keterlibatan Depkes dan DPR





Jakarta - Koalisi Anti Korupsi Ayat Rokok (Kakar) mencium indikasi keterlibatan Departemen Kesehatan (Depkes) dan DPR dalam penghilangan ayat tentang tembakau di UU Kesehatan.

"Kita mengindikasikan adanya keterlibatan Depkes dan DPR dalam penghilangan ayat rokok tersebut," ujar pengamat kesehatan dari KAKAR Kartono Muhammad.

Hal itu disampaikan dia dalam jumpa pers di kantor Indonesian Corruption Watch (ICW), Jl Kalibata IV, Jakarta Selatan, Jumat (16/10/2009). KAKAR adalah gabungan dari beberapa organisasi seperti ICW, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), dan Komnas Perlindungan Anak.

Indikasi tersebut diperoleh dari beberapa orang saksi yang bersedia
membeberkan persoalan tentang hilangnya ayat tersebut.

"Ada surat yang menyetujui pasal itu dihilangkan. Buktinya ada di tangan orang tersebut, tetapi yang bersangkutan masih takut," jelasnya.

"Juga dari jawaban sekretariat DPR yang mengatakan: 'ayat sudah
dikembalikan, pihak Depkes setuju mengembalikan'. Kenapa ada kata ini?" tambahnya.

Kartono pun masih enggan berbicara mengenai siapa-siapa yang terlibat dalam konspirasi hilangnya ayat tersebut.

"Saat ini tidak bijaksana untuk dikemukakan. Kami akan mengadukan ini ke polisi. Nama sudah ada dan lebih dari dua orang, bukti juga sudah ada," sebutnya.

Ia juga tidak menampik dugaan adanya dorongan dari pihak luar yang menginginkan agar ayat tembakau tersebut dihilangkan di pasal 113 undang-undang kesehatan.

Muhammad Taufiqqurahman - detikNews